Minggu, 15 November 2015

Investigasi

Investigasi


Investigasi adalah penyelidikan dengan mencatat atau merekam fakta melakukan peninjauan, percobaan, dan sebagainya, dengan tujuan memperoleh jawaban atas pertanyaan (tentang peristiwa, sifat atau khasiat suatu zat, dan sebagainya); penyidikan



CONTOH INVESTIGASI


TRIBUNNEWS.COM -  "Ayo bangsaku, taklukkan dunia dengan kekayaan kuliner kita." Demikian postingan presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam Laman Resmi Facebooknya, Ir H Joko Widodo, Minggu (30/11/2014).

Ajakan presiden tersebut, tak lepas dari sebuah perenungannya dalam perjalanan ke Wonogiri, Sabtu (29/11/2014) kemarin-- untuk acara menanam pohon. "Saya sempat merenung tentang kekayaan dunia kuliner kita," tulis Jokowi.

Jokowi menilai bangsa Indonesia mempunyai kekayaan kuliner luar biasa. Namun, kata Jokowi, bisa dikatakan gagal mem-"branding" kuliner tanah air ke dalam pasaran dunia internasional.

Padahal, tegas Jokowi, masakan khas Indonesia luar biasa enak, dan dunia mengakui mutu-nya. Rendang disebut sebagai "masakan terlezat di dunia" yang disurvey oleh CNN dalam 'World’s 50 Most delicious Foods'. Bahkan cendol juga dimasukkan dalam daftar minuman terenak. Padahal itu adalah hasil dari peradaban kuliner Indonesia.

"Pernah saya ke Eropa beberapa tahun lalu untuk perjalanan bisnis, betapa masakan Thailand seperti Tom Yam sudah amat dikenal. Mungkin hanya di Belanda makanan kita dikenal baik, seperti Gado-Gado, Nasi Goreng, atau hidangan nasi lengkap buatan orang Belanda yang bahan-nya amat Indonesia seperti Rijsttafel hidangan yang lengkap ala Indonesia dari sate sampai telor dadar," kenang Jokowi.

Menurut Jokowi, hal ini adalah tantangan seluruh masyarakat sebagai bangsa untuk menaklukkan dunia dengan kuliner bangsa Indonesia.

Kata Jokowi, kita bisa menjadikan Soto Mie sebagai makanan kesenangan di Moskow, Sop Buntut menjadi kegemaran orang-orang di Tokyo atau Soto Ambengan menjadi kegemaran penduduk London. Itulah contoh kuliner Indonesia yang 'menaklukkan dunia.'
"Nah, inilah tantangan bagi generasi muda dan pengusaha-pengusaha kita untuk menembus dunia internasional dengan membawa produk-produk masakan kita. "

"Namun sebelum itu anak-anak muda kita harus bangga dengan masakan bangsa sendiri, tidak minder kita makan gado-gado, lotek, ketoprak, lontong balap ataupun tahu gejrot, kita harus bangga atas masakan yang dihasilkan dari sejarah kuliner bangsa kita, dengan kebanggaan itu kita bisa mengenalkan peradaban kuliner kita di depan bangsa lain," demikian ajakan Jokowi.

Sumber :
- http://kbbi.web.id/investigasi
- http://www.tribunnews.com/travel/2014/11/30/tiga-kuliner-indonesia-yang-bisa-taklukkan-dunia-menurut-presiden-jokowi

Laporan Interpretatif

Laporan Interpretatif

Pengertian Laporan Interpretatif

          Interpretatif biasanya memfokuskan sebuah isu, masalah, atau peristiwa-peristiwa kontroversial. Namun demikian, fokus beritanya masih berbicara mengenai fakta yang terbukti bukan opini. Dalam jenis laporan ini, reporter menganalisis dan menjelaskan. Karena laporan interpretatif bergantung kepada pertimbangan nilai dan fakta, maka sebagian pembaca menyebutnya sebagai ”opini”. Biasanya, para reporter interpretatif menemui sedikit masalah dalam pencarian fakta. Mereka umumnya mencoba menerangkan berbagai peristiwa publik. Sumber informasi dapat diperoleh dari narasumber yang mungkin hanya memberikan informasi yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan mereka. Laporan interpretatif biasanya dipusatkan untuk menjawab pertanyaan mengapa. Berita interpretatif bersifat beritanya, apa makna sebenarnya dari peristiwa tersebut.
          Atau Laporan Interpretatif adalah reportase atau berita yang mengandung pemikiran, penafsiran, pandangan dan tidak jarang juga pendapat wartawan. Disini wartawan mengulas suatu berita yang baru terjadi ataupun yang sudah lama terjadi dengan memberikan interpretative, spekulasi serta pendapat. Oleh karena itu, sebagian orang menerjemahkan laporan interpretatif dengan “berita ulasan”.
Laporan interpretatif merupakan suatu bentuk laporan yang lebih bebas. Umumnya kualifikasi wartawan yang dipercaya untuk mengerjakannya adalah wartawan senior atau wartawan yang menguasai masalah seputar topik dan melakukannya dengan baik, jujur dan objektif. Serta berani mengutarakan penafsiran, pendapat dan pemikirannya karena ia memang berada pada posisi mengetahui fakta yang berkaitan dengan peristiwa yang dilaporkan. Ia juga menjadi lebih bebas memberi warna (color), suasana (atmosphere) dan kritikan atau sindiran (parody).
Laporan interpretatif harus merupakan laporan hasil observasi lapangan dari wartawan bersangkutan serta menunjukkan keberadaannya pada situasi yang diceritakan atau dilaporkan, maka dari itu perlu diberi warna dan suasana didalamnya. Untuk menanamkan rasa percaya pada pembaca, wartawan perlu menggambarkan suasana mengenai kejadian yang diceritakan serta dilaporkan. Tujuannya adalah agar pembaca yakin terhadap penafsiran yang diberikan wartawan tersebut.


CONTOH LAPORAN INTERPRETATIF :


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Hari ini, Minggu (15/11/2015), pukul 22.00 WIB di KompasTV, Andy F. Noya kembali hadir dalam program talk show inspiratif Big Bang! Show.
Tidak kalah inspiratif dari episode sebelumnya, pada episode kali ini Big Bang! Show akan mengangkat tema “Dari Desa untuk Kota” bersama Piter Tan yang merupakan pengusaha kopi asal Papua, Anang Setiawan inisiator dari “Gerakan Pulang Ke Desa”, dan tim desainer Toyota Astra Motor Donny Adhi Yuwono, Akbar Juniarto, Prana Jiwandhana, Akbar Prima Nurman dan Mifta Farid Sah Putra. Tentunya tak ketinggalan, Andy F. Noya akan ditemani oleh parat mentor yaitu Veronica Colondam dan Ben Soebiakto.
Produser Big Bang! Show Julius Sumant mengatakan, "Indonesia bisa cepat besar dengan anak muda seperti Piter Tan dan Anang Setyawan. Mereka ini local heroes yang melihat bisnis bisa sejalan dengan kearifan lokal."
Episode "Dari Desa untuk Kota" ini, menampilkan Piter Tan seorang pemuda yang telah memberdayakan masyarakat di Lembah Baliem, Wamena, Papua untuk budidaya kopi dan menjadikannya komoditas yang memiliki harga jual yang tinggi. Dari hasil pemikiran dan campur tanganya, masyarakat Wamena yang semula tak mengenal kopi, kini dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dari bertani kopi.
Atas jasanya tersebut, kemudian Piter diangkat menjadi anak adat oleh pak Lanny, seorang kepala adat di desa Yagara, Wamena.
Tidak kalah inspiratif, sosok pejuang sociopreneur juga hadir dari seseorang yang memilih pulang ke kampung halaman untuk membangun desanya di Desa Jambewangi, Banyuwangi, Jawa Timur. Lewat programnya "Gerakan Pulang Ke Desa", ia mengajak anak muda di daerahnya untuk kembali ke desa dan menjadi wirausaha. Atas ide dan prestasinya ini, Anang meraih predikat juara Ideafest 2015.
Kisah menarik lainya juga hadir dari tim desainer Toyota Astra Motor yang memodifikasi mobil Yaris dan Agya menjadi tampilan yang berbeda dari umumnya sebagai city car. Setelah pengerjaan selama enam bulan mereka menghasilkan modifikasi Yaris Heykers, Agya Kojo dan Yaris Legian.
Penasaran akan seperti apa pembicaraan dan ide-idenya? Mau tahu juga apa motivasi yang melatar-belakangi para sociopreneur tersebut? Saksikan selangkapnya di Big Bang! Show, Minggu 15 November 2015 pukul 22.00 WIB di KompasTV. “Do more, do good, big bang!”.


Sumber :
- http://www.tribunnews.com/metropolitan/2015/11/15/dari-desa-untuk-kota-di-big-bang-show-minggu-ini
- 1. Willing, S. (2010). Laporan Interpretatif. In Jurnalistik; Petunjuk Teknis Menulis Berita (p. 105). Jakarta: Erlangga.


Soft News

Soft News


Beralih ke soft news. Berita soft news adalah berita yang dari segi struktur penulisan relatif lebih luwes, dan dari segi isi tidak terlalu berat. Soft news umumnya tidak terlalu lugas, tidak kaku, atau ketat, khususnya dalam soal waktunya. Misalnya: tulisan untuk menggambarkan kesulitan yang dihadapi rakyat kecil akibat krisis ekonomi akhir-akhir ini. Selama krisis ekonomi ini masih berlanjut, berita itu bisa diturunkan kapan saja. Atau tulisan tentang artis Meriam Bellina, yang punya hobi baru mengkoleksi pot bunga antik. Biasanya lebih banyak mengangkat aspek kemanusiaan (human interest).

Dari segi bentuknya, soft news masih bisa kita perinci lagi menjadi dua: news feature dan feature. Feature adalah sejenis tulisan khas yang berbentuk luwes, tahan waktu, menarik, strukturnya tidak kaku, dan biasanya mengangkat aspek kemanusiaan. Panjang tulisan feature bervariasi dan boleh ditulis seberapa panjang pun, sejauh masih menarik. Misalnya, feature tentang kehidupan sehari-hari nelayan di Marunda. Sedangkan news feature adalah feature yang mengandung unsur berita. Misalnya, tulisan yang menggambarkan peristiwa penangkapan seorang pencuri oleh polisi, yang diawali dengan kejar-kejaran, tertangkap, lepas lagi, dan semua liku-liku proses penangkapan itu disajikan secara seru, menarik, dan dramatis, seperti kita menonton film saja.


CONTOH SOFT NEWS :


TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANYUWANGI- Sebuah video seorang laki laki sedang mengisap sabu beredar di media sosial. Video tersebut kali pertama diunggah akun Facebook atas nama Ages Dhian pada 29 Oktber 2015.
Pada video tersebut terlihat seorang laki-laki mengenakan baju hitam sedang asyik mengisap sabu. Di sebelahnya terlihat seorang laki-laki yang juga mengunakan baju berwarna hitam. Ironisnya, terdengar suara anak kecil dalam video tersebut yang di duga berada dalam satu ruangan dengan kedua lelaki tersebut.
Belakangan, pria yang berada dalam video yang berdurasi 04.01 tersebut adalah oknum polisi yang saat ini masih bertugas di Polres Banyuwangi. Saat dihubungi Kompas.com, Minggu (1/11/2015) pejabat Humas Polres Banyuwangi, AKP Subandi membenarkan bahwa aktor dalam video tersebut adalah anggota kepolisian Polres Banyuwangi atas nama Brigadir R.
"Video itu sudah lama dibuat sekitar tahun 2011 dan diunggah sendiri oleh istrinya karena kesal suaminya jarang pulang," jelasnya.
Saat ini Brigadir R tersbeut bertugas di Unit Resmob Satreskrim Polres Banyuwangi.
"Namannya tugas jadi terkadang memang tidak pulang beberapa hari dan itu membuat istrinya kesal," katanya.
Terkait beredarnya video tersebut, pihaknya kepolisian sudah memeriksa beberapa orang terlibat dalam video tersebut, termasuk Brigadir R, istrinya dan rekannya yang ada dalam video tersebut.
"Sudah ditangani langsung oleh Tim Propam Polda Jatim," pungkasnya.
Sementara itu, akun Facebook Ages Dhian sudah tidak bisa lagi diakses setelah diunggahnya video tersebut. Namun video tersebut sudah beredar di YouTube.

Sumber :
- Jurnal I'M KOM  Universitas Multimedia Nusantara
- http://lampung.tribunnews.com/2015/11/01/istri-polisi-unggah-video-suaminya-isap-sabu-karena-kesal
- pustaka.pu.go.id/files/pdf/SETJEN-08-B002432-pengantar_dasar_jurnalisme(1).pdf soft news pengertian book


Hard News

Hard News

         

    Hard news, adalah berita penting yang harus disampaikan langsung ke publik. Berita jenis ini tidak bisa ditunda pemberitaanya karena akan cepat basi. Kadang penulisan berita macam ini juga disebut breaking news, spot news, atau straight news.

              Ada beberapa ciri-ciri khas dari Hard news. Pertama, mementingkan aktualitas. Definisi dari aktual adalah sedang menjadi pembicaraan orang banyak atau peristiwa yang baru saja terjadi. Kita ambil contoh, misalnya judul berita: Intelijen Korea Bantah Curi Data Delegasi RI, merupakan berita tanggal 21 Februari 2011, apakah berita macam ini masih punya nilai berita jika tidak disajikan pada hari itu juga? Tentu saja tidak. Berita seperti ini akan cepat kehilangan nilai jualnya. Karenanya, berita hard news sangat mementingkan aktualitas.

         Ciri yang kedua adalah memakai sistem piramida terbalik dalam penulisan berita. Artikel berbentuk berita ini memiliki struktur unik, yaitu inti informasi ditulis pada alinea awal (disebut sebagai "lead”) dan data-data penting menyusul pada alinea-alinea selanjutnya, lalu penjelasan tambahan, dan diakhiri dengan informasi lain yang bukan bersifat informasi utama. Inilah yang disebut sebagai piramida terbalik.

          Bagi pembaca sebuah artikel, piramida terbalik memudahkannya menangkap inti cerita, sebab informasi yang paling pokok langsung dibeberkan sejak alinea-alinea awal. Sementara bagi redaktur di meja redaksi, piramida terbalik juga memberi keuntungan. Yaitu ketika sebuah artikel harus diperpendek karena kolom terbatas sementara waktu sudah mepet, maka redaktur tinggal memotong bagian bawah. Kalimat-kalimat yang dibuang itu tidak akan mengurangi makna artikel, asalkan ditulis dalam bentuk piramida terbalik.

               Agar tercipta hard news yang baik maka lead harus baik pula. Lead yang baik harus memenuhi satu syarat, yaitu pemakaian 5W + 1H, Singkatan dari “what, who, when, where, why, how,” yang dalam bahasa Indonesia menjadi “apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, bagaimana.” Semua unsur inilah yang harus terkandung dalam sebuah hard news. Contoh lead yang diambil dari vivanews.com :  Intelijen Korea Bantah Curi Data Delegasi RI -- Kamar VIP di Lotte Hotel, tempat delegasi Indonesia menginap selama di Seoul, Korea Selatan, disantroni penyusup. Tiga orang mencurigakan -- dua laki-laki dan seorang perempuan mencuri data dari laptop menggunakan USB. Para pelaku kabur saat kepergok salah satu staf dari Indonesia.


        Ciri yang ketiga adalah kelengakapan dari isi beritanya. Lengkapnya sebuah hard news, bisa dipenuhi apabila pemakaian 5W + 1H sudah diterapkan. 5W+1H adalah unsur berita dan harus ada. Bayangkan, jika salah satu unsur dari enam unsur tersebut tidak ada. Pasti berita tersebut sarat akan informasinya sehingga tidak ada kelengkapan.


        Ciri yang keempat adalah untuk memberi informasi. Sebagai jendela, agar para pembaca yang tidak tahu menjadi tahu. jika mengambil contoh berita dari vivanews.com, kita tidak akan tahu apakah ada data rahasia yang dicuri oleh intelejen korea? Lewat hard news, fungsi memberi info sangat diprioritaskan.
     
  Ciri yang kelima adalah panjang dari hard news 100-200 kata. Tidak perlu panjang-panjang karena fungsinya memberi info yang aktual dan memenuhi unsur 5W+1H.
         Hard news juga memiliki arti penting bagi penggemar para pembaca, pendengar dan pemirsa karena biasanya berisi kejadian yang “ terkini” yang baru saja terjadi atau jadi di pemerintahan , politik , hubungan luar negeri  , pendidikan , ketenagakerjaan ,agama,pengadilan,pasar finansial dan sebagainya meskipun punya arti penting , biasanya tidak banyak menarik pembaca , pendengar atau pemirsa karena isinya kurang menarik bagi banyak orang dna sering kali lebih sulit dipahami ketimbang hard news

CONTOH HARD NEWS :

          Pemungutan Ulang Pilkada Tangerang Selatan

Tangerang – Pemilihan ulang Pilkada tangerang kembali dilakukan pada 27 Februari 2011 kemarin. Hal ini dilakukan guna memilih calon wakil kota Tangerang secara adil dan tidak ada kecurangan seperti pilkada pada awal pemilihan.
Pilkada ulang yang akan dilakukan untuk kedua kalinya melibatkan puluhan polisi guna menjaga keamanan politik ini. Pengamanan yang mengerahkan 3000 polisi ini menggunakan sistem 1-4-2 yang artinya 1 TPS akan dijaga ketat oleh 4 Linmas dan 2 polisi. Polisi juga dipercaya mengawasi adanya ‘serangan fajar’ sebelum pemungutan suara dilangsungkan. Hal ini diharapkan tidak adanya kecurangan baik dari pihak media untuk mendahului pilkada sebelum berlangsung. Penjagaan dilakukan mulai dari proses awal pilkada berlangsung sampai pada proses penghitungannya.
Pemungutan ulang yang dilakukan untuk kedua kalinya dilakukan setelah pasangan Arsid- Andre mencium adanya tindak kecurangan politik dalam hal ini. Pasangan ini mengajukan permohonan kepada MK untuk melakukan pemungutan suara ulang karena pasangan ini mencium adanya kecurangan politik. Pada pilkada yang diselenggarakan pertama kali, pasangan Airin- Benyamin mendapatkan suara terbanyak dalam penghitungan. Tetapi hal ini dibatalkan seiring dengan putusan MK yang mendapatkan keluhan dari pasangan Arsid- Andre. Dalam pilkada yang kedua kalinya, pihak Airin menjelaskan bahwa pendukungnya  menyadari akan adanya putusan yang diturunkan MK pada pilkada pertama dan tetap menghormati atas putusan yang dikeluarkan. Meski pada pilkada pertama penghitungan suara dinyatakan tidak sah, pihak Airin tetap optimis bahwa ia akan mendapatkan suara terbanyak untuk pilkada kali ini.
Pernyataan Airin terbukti dengan adanya hasil penghitungan cepat yang dilakukan oleh Puskaptis yang pengambilan sampel dilakukan secara acak atau random di 175 TPS dari 1890 TPS dan 50 kelurahan dari 54 kelurahan yang ada di tujuh kecamatan Tangerang Selatan. Perolehan suara yang diterima Airin- Benyamin sebesar 51,67 persen dan hanya berbeda sedikit dari Arsid- Andre yang mendapatkan perolehan suara sebanyak 46,22 persen.
Tetapi hasil quick count ini sifatnya hanya sementara dan bisa terjadi kesalahan. Maka hal ini tidak mutlak dijadikan dasar sebagai penentu kemenangan pilkada Tangsel ini, karena pihak yang menentukan pemenang adalah KPUD kota Tangsel.
Sumber :
- http://pustaka.pu.go.id/files/pdf/SETJEN-08-B002432-pengantar_dasar_jurnalisme%281%29.pdf
- Jurnal I'M KOM  Universitas Multimedia Nusantara
- https://blogonlinejournalist.wordpress.com/2011/03/02/contoh-hard-news/

Sejarah Jurnalistik

 Sejarah Jurnalistik

          Awal mulanya muncul jurnalistik dapat diketahui dari berbagai literatur tentang sejarah jurnalistik senantiasa merujuk pada “Acta Diurna pada zaman Romawi Kuno masa pemerintahan kaisar Julius Caesar (100-44 SM).
“Acta Diurna, yakni papan pengumuman (sejenis majalah dinding atau papan informasi sekarang), diyakini sebagai produk jurnalistik pertama; pers, media massa, atau surat kabar harian pertama di dunia. Julius Caesar pun disebut sebagai “Bapak Pers Dunia.
Sebenarnya, Caesar hanya meneruskan dan mengembangkan tradisi yang muncul pada permulaan berdirinya kerajaan Romawi. Saat itu, atas peritah Raja Imam Agung, segala kejadian penting dicatat pada “Annals, yakni papan tulis yang digantungkan di serambi rumah. Catatan pada papan tulis itu merupakan pemberitahuan bagi setiap orang yang lewat dan memerlukannya.
Saat berkuasa, Julius Caesar memerintahkan agar hasil sidang dan kegiatan para anggota senat setiap hari diumumkan pada “Acta Diurna. Demikian pula berita tentang kejadian sehari-hari, peraturan-peraturan penting, serta apa yang perlu disampaikan dan diketahui rakyatnya. Papan pengumuman itu ditempelkan atau dipasang di pusat kota yang disebut “Forum Romanum (Stadion Romawi) untuk diketahui oleh umum.
Berita di “Acta Diurna kemudian disebarluaskan. Saat itulah muncul para “Diurnarii, yakni orang-orang yang bekerja membuat catatan-catatan tentang hasil rapat senat dari papan “Acta Diurna itu setiap hari, untuk para tuan tanah dan para hartawan.
Dari kata “Acta Diurna inilah secara harfiah kata jurnalistik berasal yakni kata “Diurnal dalam Bahasa Latin berarti “harian atau “setiap hari. Diadopsi ke dalam bahasa Prancis menjadi “Du Jour dan bahasa Inggris “Journal yang berarti “hari, “catatan harian, atau “laporan. Dari kata “Diurnarii muncul kata “Diurnalis dan “Journalist (wartawan).
Dalam sejarah Islam, seperti dikutip Kustadi Suhandang (2004), cikal bakal jurnalistik yang pertama kali di dunia adalah pada zaman Nabi Nuh. Saat banjir besar melanda kaumnya, Nabi Nuh berada di dalam kapal beserta sanak keluarga, para pengikut yang saleh, dan segala macam hewan.
Untuk mengetahui apakah air bah sudah surut, Nabi Nuh mengutus seekor burung dara ke luar kapal untuk memantau keadaan air dan kemungkinan adanya makanan. Sang burung dara hanya melihat daun dan ranting pohon zaitun yang tampak muncul ke permukaan air. Ranting itu pun dipatuk dan dibawanya pulang ke kapal. Nabi Nuh pun berkesimpulan air bah sudah mulai surut. Kabar itu pun disampaikan kepada seluruh penumpang kapal.
Atas dasar fakta tersebut, Nabi Nuh dianggap sebagai pencari berita dan penyiar kabar (wartawan) pertama kali di dunia. Kapal Nabi Nuh pun disebut sebagai kantor berita pertama di dunia.
Dan juga bisa kita ketahui bahwa Sejarah Jurnalistik dimulai 60 tahun Sebelum Masehi (SM) di zaman Romawi kuno. Ketika itu sudah muncul media untuk pernyataan umum yang kemudian dikenal sebagai surat kabar. Media tersebut diberi nama Acta Senatus atau Acta Diurna Populi Romawi. Acta Diurna Popali Romawi yang disingkat menjadi Acta Senatus terbit setiap hari dan isinya memuat pengumuman dari Kaisar Roma dan berita-berita kegiatan kekaisaran lainnya yang ditempel atau dipasang di pusat kota yang disebut Forum Romanum (Stadion Romawi). Pada mulanya Acta Diurna ditulis di atas meja dan setiap orang yang melintasinya dapat membacanya. Mereka yang sering membaca Acta Diurna di meja itu semakin banyak jumlahnya. Orang yang tidak mendapat kesempatan membaca langsung di sana ataupun tidak sempat datang ke Roma untuk mengunjungi meja itu dapat memesan kepada orang lain untuk mencatat isi beritanya. Orang yang mencatat itu disebut Actuari atau pencatat berita.
Setiap hari, jumlah para Actuari semakin membludak. Untuk itu, Acta Diurna akhirnya dibacakan tiap pagi selama dua jam oleh pegawai istana. Isinya juga semakin lengkap dan beragam menyangkut antara lain berita pertukaran pejabat istana, perpindahan pegawai, kunjungan resmi pejabat, undangan kaisar, berita keluarga, upacara kerajaan, termasuk mengenai pertunjukan sirkus. Perkembangan selanjutnya ditulis dan ditempel di Forum Romanum.
Acta Diurna diterbitkan oleh Julius Caesar pada tahun 59 SM dan ternyata tetap bertahan selama empat abad sampai runtuhnya kekaisaran Roma pada tahun 476 Masehi. Di zaman kekaisaran Augustus cara penyampaian berita banyak diperbaiki, yaitu melalui cara beranting (estafet). Para pakar menyebut masa sebelum Acta Diurna sebagai Masa Prajurnalis dan masa setelah Acta Diurna sebagai Masa Jurnalis.
Sumber lain mengatakan bahwa Caesar sebenarnya hanya meneruskan dan mengembangkan tradisi yang muncul pada permulaan berdirinya kerajaan Romawi. Saat itu, atas peritah Raja Imam Agung, segala kejadian penting dicatat pada “Annals”, yakni papan tulis yang digantungkan di serambi rumah. Catatan pada papan tulis itu merupakan pemberitahuan bagi setiap orang yang lewat dan memerlukannya. Saat berkuasa, Julius Caesar memerintahkan agar hasil sidang dan kegiatan para anggota senat setiap hari diumumkan pada “Acta Diurna”. Demikian pula berita tentang kejadian sehari-hari, peraturan-peraturan penting, serta apa yang perlu disampaikan dan diketahui rakyatnya. Papan pengumuman itu ditempelkan di Forum Romanum untuk diketahui oleh umum. Berita di Acta Diurna kemudian disebarluaskan. Saat itulah muncul para Diurnarii, yakni orang-orang yang bekerja membuat catatan-catatan tentang hasil rapat senat dari papan Acta Diurna itu setiap hari, untuk para tuan tanah dan para hartawan.
Dari kata Acta Diurna inilah secara harfiah kata jurnalistik berasal yakni kata “Diurnal” dalam Bahasa Latin berarti “harian” atau “setiap hari.” Diadopsi ke dalam bahasa Prancis menjadi “Du Jour” dan bahasa Inggris “Journal” yang  berarti “hari”, “catatan harian”, atau “laporan”. Dari kata “Diurnarii” muncul kata “Diurnalis” dan “Journalist” (wartawan).
Di Indonesia, sejarah persuratkabaran telah berlangsung sejak zaman penjajahan. Percobaan pertama penerbitan pers pada zaman Hindia - Belanda terjadi pada pertengahan Abad ke - 17. Berita - berita dari Eropa yang sampai ke Batavia disusun oleh kantor Gubernur Jenderal Jen Pieterzoon Coen untuk selanjutnya dikirim dalam bentuk tulisan tangan antara lain ke Ambon. Berita ini bertajuk Memorie de Nouvelles (sekitar 1615) dan merupakan purwarupa surat kabar Belanda di negeri jajahannya ini. Namun demikian, berita yang masih ditulis tangan ini belum bisa disebut koran pertama yang terbit di Indonesia. Sebab, sekitar satu abad sesudah itu (abad ke - 18), muncul pula Bataviasche Noevelles yang terbit dalam bentuk koran. Koran yang terbit pertama kali pada 7 Agustus 1744 ini merupakan koran resmi pemerintahan Gubernur Jenderal Van Imhoff. Namun koran ini hanya bertahan selama sekitar dua tahun.

Sumber :
- http://dloen.malhikdua.com/2013/04/11/makalah-sejarah-jurnalistik-dan-perkembangan-nya/
- http://digilib.esaunggul.ac.id/public/UEU-Undergraduate-3929-SAMODRO.pdf
- http://www.academia.edu/8895545/Sejarah_Jurnalistik_Dunia ( Romli, A. (n.d.). Sejarah Jurnalistik - Dunia. Retrieved October 7, 2015 )
- Willing, S. (2010). Pengertian Jurnalistik. In Jurnalistik; Petunjuk Teknis Menulis Berita (p. 4).        Jakarta: Erlangga
- Muhtadi, A. (1999). Pengertian Serta Perkembangan Pers dan Jurnalistik. In Jurnalistik; Pendekatan  Teori dan Praktik (p. 21). Ciputat: Logos Wacana Ilmu.